Senin, 21 Oktober 2013

decompensasicordis



 
ASKEP DECOMPENSASI CORDIS

A.          Pengertian
Berdasar definisi patofisiologik gagal jantung (decompensatio cordis) atau dalam bahasa inggris Heart Failure adalah ketidakmampuan jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan pada saat istirahat atau kerja ringan. Hal tersebut akan menyebabkan respon sistemik khusus yang bersifat patologik (sistem saraf, hormonal, ginjal, dan lainnya) serta adanya tanda dan gejala yang khas (Fathoni, 2007).
Merupakan sindroma klinik yang terdiri dari sesak napas dan rasa cepat lelah yang disebabkan oleh kelainan jantung (Purwaningtyas, 2007).

B.     Etiologi
Penyebab gagal jantung digolongkan menurut apakah gagal jantung tersebut menimbulkan gagal yang dominan sisi kiri atau dominan sisi kanan. Dominan sisi kiri : penyakit jantung iskemik, penyakit jantung hipertensif, penyakit katup aorta, penyakit katup mitral, miokarditis, kardiomiopati, amiloidosis jantung, keadaan curah tinggi ( tirotoksikosis, anemia, fistula arteriovenosa). Dominan sisi kanan : gagal jantung kiri, penyakit paru kronis, stenosis katup pulmonal, penyakit katup trikuspid, penyakit jantung kongenital (VSD, PDA), hipertensi pulmonal, emboli pulmonal masif (Chandrasoma, 2006).
C.     Tanda dan gejala
Adapun tanda dan gejalanya menurut Chung 1995 adalah sebagai berikut:
1.      Kelelahan/ kelemahan.
2.      Dispnea.
3.      Ortopne.
4.   Dispne nokturia paroksimal.
5.   Batuk.
6.   Nokturia.
7.   Anoreksia.
8.   Nyeri kuadran kanan atas.
9.   Takikardia.
10.  Pernapasan cheyne-stokes.
11  Sianosis.
12.  Ronkhi basah
13.  Peninggian tingkat pulsasi vena jugularis.
14.  Hepatosplenomegali.
15.  Asites.
16.  Edema perifer 

D.    Klasifikasi
Berdasarkan bagian jantung yang mengalami kegagalan pemompaan,gagal jantung terbagi atas gagal jantung kiri,gagal jantung kanan,dan gagal jantung kongestif.

Pada gagal jantung kiri terjadi dyspneu d’effort,fatigue,ortopnea,dispnea nocturnal paroksismal,batuk,pembesaran jantung,irama derap,ventricular heaving,bunyi derap S3 dan S4,pernapasan cheyne stokes,takikardi,pulsusu alternans,ronkhi dan kongesti vena pulmonalis.

Pada gagal jantung kanan timbul edema,liver engorgement,anoreksia,dan kembung.Pada pemeriksaan fisik didapatkan hipertrofi jantung kanan,heaving ventrikel kanan,irama derap atrium kanan,murmur,tanda tanda penyakit paru kronik,tekanan vena jugularis meningkat, asites, hidrothoraks, peningkatan tekanan vena, hepatomegali, dan pitting edema.

Pada gagal jantung kongestif terjadi manifestasi gabungan gagal jantung kiri dan kanan.
New York Heart Association (NYHA) membuat klasifikasi fungsional dalam 4 kelas :
I bila timbul gejala sesak napas atau capai pada aktivitas fisik yang berat.
II bila timbul gejala sesak napas atau capai pada aktivitas yang sedang.
III bila timbul gejala sesak napas atau capai pada aktivitas yang ringan.
IV bila timbul gejala sesak napas atau capai pada aktivitas yang sangat ringan dan pada waktu istirahat

E.     Pemeriksaan Diagnostik
1. Keluhan Penderita berdasarjan tanda dan Gejala
2. Pemeriksaan Fisik EKG untuk melihat ada tidaknya infak myocardinal akut, dan guna mengkaji kompensasi seperti hipertropi ventrikel.
3. Echocordiografi dapat membantu evaluasi miokard yang iskemik atau nekrotik pada penyakit janung koroner
4. Film X-ray thorax untuk melihat adanya kongesti pada paru dan pembesaran jantung.

F.      Penatalaksanaan
Tindakan dan pengobatan pada gagal jantung ditujukan pada 5 aspek : mengurangi beban kerja, memperkuat kontraktilitas miokard, mengurangi kelebihan cairan dan garam, melakukan tindakan terhadap penyebab, faktor pencetus dan penyakit yang mendasari.
Pada umumnya semua penderita gagal jantung dianjurkan untuk membatasi aktivitas sesuai beratnya keluhan. Terapi nonfarmakologi antara lain: diet rendah garam, mengurangi berat badan, mengurangi lemak, mengurangi stress psikis, menghindari rokok, olahraga teratur (Nugroho, 2009). Beban awal dapat dikurangi dengan pembatasan cairan, pemberian diuretika, nitrat, atau vasodilator lainnya. Beban akhir dikurangi dengan obat-obat vasodilator, seperti ACE-inhibitor, hidralazin. Kontraktilitas dapat ditingkatkan dengan obat ionotropik seperti digitalis, dopamin, dan dobutamin (Sugeng dan Sitompul, 2003).
G.    Pengkajian fokus
Menurut Doenges (2000) pengkajian fokusnya adalah sebagai berikut:
1.      Aktivitas/ istirahat.
Gejala    : Keletihan atau kelelahan terus menerus sepanjang hari, insomnia, nyeri dada dengan aktivitas, dispnea pada istirahat atau pada pengerahan tenaga.
Tanda    : Gelisah, perubahan status menilai mental, misal letargi, tanda vital berubah pada aktivitas.
2.      Sirkulasi
Gejala    : Riwayat hipertensi, episode gagal jantung kiri (sebelumnya), penyakit katub jantung, endokarditis, sistemik lupus erythematosus, anemia, syok septik.
              Bengkak pada kaki, telapak kaki, abdomen :sabuk terlalu ketat” (pada gagal bagian kanan).
Tanda    : Tekanan darah mungkin darah rendah (gagal pemompaan), normal (GJK ringan atau kronis) atau tinggi (kelebihan beban cairan). Tekanan nadi mungkin sempit, menunjukkan penurunan volume sekuncup, frekuensi jantung takikardia (gagal jantung kiri).
              Bunyi jantung: S2 (gallop) adalah diagnostik, S4 dapat terjadi, S1 dan S2 mungkin melemah. Murmur sistolik dan diastolik dapat menandakan adanya stenosis katub atau insufisiensi.
              Punggung kuku: pucat atau sianotik dengan pengisian kapiler lambat. Hepar: pembesaran atau dapat teraba: reflek hepatojugularis. Bunyi napas: brekels, ronki.
3.      Integritas ego
Gejala    : Ansietas, kuatir, batuk, stres yang berhubungan dengan penyakit atau keprihatinan finansial.
Tanda    : Berbagai manifestasi prilaku, misal ansietas, marah, ketakutan, mudah tersinggung.
4.      Eliminasi
Gejala    : Penurunan berkemih, abdomen berwarna gelap, berkemih malam hari, diare atau konstipasi.
5.      Makanan/ cairan.
Gejala    : Kehilangan nafsu makan, mual/ muntah, penambahan BB signifikan, pembengkakan pada ekstremitas bawah, pakaian atau sepatu sesak, diet tinggi garam atau makanan yang telah diproses, lemak, gula dan kafein, penggunaan diuritik.
Tanda    : Penambahan berat badan tetap.
              Distensi abdomen (asites), edema, (umum, depender, tekanan, pitting).
6.      Hygiene
Gejala    : Keletihan atau kelemahan, kelelahan selama aktivitas perawatan diri.
Tanda    : Penampilan menandakan kelalaian perawatan personal.
7.      Neurosensori
Gejala    : Kelemahan, pening, episode pingsan.
Tanda    : Letargi, kusut pikiran, disorientasi, mudah tersinggung.

8.      Nyeri/ ketidaknyamanan
Gejala    : Nyeri dada, angina akut atau kronis, nyeri abdomen kanan atas, sakit pada otot.
Tanda    : Tidak tenang, gelisah, fokus menyempit (menarik diri), prilaku melindungi diri.
9.      Pernafasan
Gejala    : Dispnea saat aktivitas, tidur sambil duduk, atau dengan beberapa bantal, batuk dengan tanpa pembentukkan sputum, riwayat penyakit paru kronis, gangguan bantuan pernapasan.
Tanda    : Pernafasan takipnea, nafas dangkal, batuk kering/ nyaring/ non produktif atau terus menerus dengan tanpa sputum, dengan krakels basiler dan mengi.
              Fungsi mental: mungkin menurun, letargi, kegelisahan, warna kulit: pucat atau sianosis.
10.  Keamanan
Gejala    : Perubahan dalam fungsi mental, kehilangan kekuatan atau tonus otot, kulit lecet.





Chandrasoma dan Taylor. 2006. Ringkasan Patologi Anatomi. Ed: ke-2. Jakarta : EGC.
Doengoes, Marylinn E, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, ( Edisi 3 ), Jakarta : EGC
Fathoni, Mochammad. 2007. Heart Failure Pathophysiologi and Management. Dalam : CatKul IPD Jantung. Surakarta : Forrinsik 04 FKUNS.
Nugroho, HS. 2009. Heart Failure Pathophysiologi and Management. Surakarta : Slide Kuliah Blok Kardiovaskuler Angkatan 2007 FKUNS.
Purwaningtyas, Niniek. 2007. Gagal Jantung (Decompensatio Cordis). Dalam : Cardiology After Mid. Surakarta : Filamen 05 FKUNS.
Sugeng dan Sitompul. 2003. Gagal Jantung. Dalam : Buku Ajar Kardiologi. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.